Senin, 24 Oktober 2011

GAJAH MADA

Gajah Mada (wafat k. 1364) adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber mitologi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih. Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.
Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat di dalam Pararaton. Ia menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia adalah salah satu tokoh sentral saat itu, sangat sedikit catatan-catatan sejarah yang ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada, saat ini masih kontroversial. Pada masa sekarang, Indonesia telah menetapkan Gajah Mada sebagai salah satu Pahlawan Nasional dan merupakan simbol nasionalisme dan persatuan Nusantara.

Awal karier 

Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang naik dalam awal kariernya menjadi Begelen atau setingkat kepala pasukan Bhayangkara pada Raja Jayanagara (1309-1328) terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.
Dalam pupuh Désawarnana atau Nāgaraktāgama karya Prapanca yang ditemukan saat penyerangan Istana Tjakranagara di Pulau Lombok pada tahun 1894 terdapat informasi bahwa Gajah Mada merupakan patih dari Kerajaan Daha dan kemudian menjadi patih dari Kerajaan Daha dan Kerajaan Janggala yang membuatnya kemudian masuk kedalam strata sosial elitis pada saat itu dan Gajah Mada digambarkan pula sebagai "seorang yang mengesankan, berbicara dengan tajam atau tegas, jujur dan tulus ikhlas serta berpikiran sehat".
Menurut Pararaton, Gajah Mada sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) putra Raden Wijaya dari Dara Petak. Selanjutnya di tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.
Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dan menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui, tetapi ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya dapat ditaklukan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanagara.

Sumpah Palapa

Ketika pengangkatannya sebagai patih Amangkubhumi pada tahun 1258 Saka (1336 M) Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) bila telah berhasil menaklukkan Nusantara. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton dalam teks Jawa Pertengahan yang berbunyi sebagai berikut

"Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa"
bila dialih-bahasakan mempunyai arti :

"Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa"

 Invasi

Walaupun ada sejumlah pendapat yang meragukan sumpahnya, Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Dimulai dengan penaklukan ke daerah Swarnnabhumi (Sumatera) tahun 1339, pulau Bintan, Tumasik (sekarang Singapura), Semenanjung Malaya, kemudian pada tahun 1343 bersama dengan Arya Damar menaklukan Bedahulu (di Bali) dan kemudian penaklukan Lombok, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Sulu, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.
Pada zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Gajah Mada terus melakukan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Dilema

Terdapat dua wilayah di Pulau Jawa yang seharusnya terbebas dari invasi Majapahit yakni Pulau Madura dan Kerajaan Sunda karena kedua wilayah ini mempunyai keterkaitan erat dengan Narrya Sanggramawijaya atau secara umum disebut dengan Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit (Lihat: Prasasti Kudadu 1294 dan Pararaton Lempengan VIII, Lempengan X s.d. Lempengan XII  dan Invasi Yuan-Mongol ke Jawa pada tahun 1293) sebagaimana diriwayatkan pula dalam Kidung Panji Wijayakrama.

Perang Bubat

Dalam Kidung Sunda diceritakan bahwa Perang Bubat (1357) bermula saat Prabu Hayam Wuruk mulai melakukan langkah-langkah diplomasi dengan hendak menikahi Dyah Pitaloka putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayah dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. Akibat peristiwa itu langkah-langkah diplomasi Hayam Wuruk gagal dan Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya karena dipandang lebih menginginkan pencapaiannya dengan jalan melakukan invasi militer padahal hal ini tidak boleh dilakukan.
Dalam Nagarakretagama diceritakan hal yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh "Madakaripura" yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.

Akhir hidup

Disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah sakit. Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi.
Raja Hayam Wuruk kehilangan orang yang sangat diandalkan dalam memerintah kerajaan. Raja Hayam Wuruk pun mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Gajah Mada. Namun tidak ada satu pun yang sanggup menggantikan Patih Gajah Mada. Hayam Wuruk kemudian memilih empat Mahamantri Agung dibawah pimpinan Punala Tanding untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Mereka pun digantikan oleh dua orang mentri yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Akhirnya Hayam Wuruk memutuskan untuk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Mangkubumi menggantikan posisi Gajah Mada.

Penghormatan

Sebagai salah seorang tokoh utama Majapahit, nama Gajah Mada sangat terkenal di masyarakat Indonesia pada umumnya. Pada masa awal kemerdekaan, para pemimpin antara lain Sukarno sering menyebut sumpah Gajah Mada sebagai inspirasi dan "bukti" bahwa bangsa ini dapat bersatu, meskipun meliputi wilayah yang luas dan budaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, Gajah Mada adalah inspirasi bagi revolusi nasional Indonesia untuk usaha kemerdekaannya dari kolonialisme Belanda.
Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta adalah universitas negeri yang dinamakan menurut namanya. Satelit telekomunikasi Indonesia yang pertama dinamakan Satelit Palapa, yang menonjolkan perannya sebagai pemersatu telekomunikasi rakyat Indonesia. Banyak kota di Indonesia memiliki jalan yang bernama Gajah Mada, namun menarik diperhatikan bahwa tidak demikian halnya dengan kota-kota di Jawa Barat.
Buku-buku fiksi kesejarahan dan sandiwara radio sampai sekarang masih sering menceritakan Gajah Mada dan perjuangannya memperluas kekuasaan Majapahit di nusantara dengan Sumpah Palapanya, demikian pula dengan karya seni patung, lukisan, dan lain-lainnya.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gajah_Mada

Rabu, 19 Oktober 2011

BAGAIMANA UPAYA UNTUK MENCARI HAKEKAT TUHAN


Beberapa Konsep yang Dipakai oleh Umat Hindu di Bali Sebagai Media Penghubung Dalam Mencari Hakikat Terhadap Tuhan Yang Maha Esa/ Hyang Widhi Wasa antara lain:

(A) Memuja Tuhan Dengan Memuja Langsung Alam Semesta dan Hasil Ciptaan-Nya, Sebagai Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa/Hyang Widhi Wasa

(B) Memuja Tuhan Melalui Media; Arca, Pratima, Gambar, Upakara, Sebagai Simbol Penghubung Ke Alam Kosmis, Hyang Widhi

(C) Memuja Tuhan Melalui Animisme dan Dinamisme, Media Komunikasi Antara Alam, Manusia dan Dewa Tertinggi Sekitarnya

(D) Memuja Tuhan Melalui Tari Wali Barong dan Rangda, Proses Pengembalian Panca Maha Bhuta dan Panca Tan Matra

(E) Memuja Tuhan Melalui Organ Gerak Yang Ada Dalam Tubuh Proses Pencaharian Jati Diri Terhadap Tuhan/Hyang Widhi

(F) Memuja Tuhan Melalui Pendekatan Pertapaan Para Raja Yang Dicandikan, Diyakini Sebagai Titisan Dewa

(G) Memuja Tuhan Melalui Kawitan (Stana Leluhur Yang Disucikan) Media Terdekat Antara Manusia dan Tuhan/Hyang Widhi, berikut interpretasi antara:

A. Memuja Tuhan Dengan Memuja Langsung Alam Semesta dan Hasil Ciptaan-Nya Sebagai Manifestasi Tuhan Yang Maha Esa

Perkembangan peradaban manusia yang pada awalnya meyakini alam semesta dan hasil ciptaan-Nya, seperti: Aditya (dewa matahari), Agni (dewa api), Apah (dewa air), Candra (dewa bulan), Yama (dewa maut), Varuna (dewa langit), Sukra (dewa planet venus), Indra (dewa penguasa), Vayu (dewa angin), Maruta (dewa angin), Soma (dewa bulan), Om (aksara suci), serta manifestasi lain adalah sebagai media penghubung dalam pencaharian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang diucapkan oleh orang-orang suci pada zaman dahulu.

Yang dipuja bukan benda atau alat itu, tapi misteri/spirit yang ada dibalik benda itu, yaitu: ada asal muasal, ada kehidupan, ada keindahan, ada kekuatan, ada keajaiban, ada manfaat, dan ada unsur-unsur lain yang mengikuti. Agama Hindu berusaha memuliakan hasil ciptaan-Nya, dimana kita ketahui, untuk mengetahui Tuhan ketahuilah hakikat alam dalam arti sebenarnya. Orang-orang bijak memberikan patokan hari-hari tertentu sebagai wujud syukur dan terimakasih umat kepada-Nya, misalnya: tumpek wariga, adalah hari memuliakan Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa sangkara, sebagai dewa tumbuh-tumbuhan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan ini.

Kita tidak tahu dari mana asal muasal keberadaannya, kapan dan siapa yang menciptakan keanekaragaman, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia dan seluruh isi alam semesta ini. Umat Hindu di Bali, dalam upacara persembahyangan memakai sarana bunga, memuja Aditya/Raditya (matahari), manifestasi Tuhan sebagai dewa surya adalah aspek Tuhan sebagai saksi, pemberi penerangan dikegelapan, disamping memberikan spirit (roh) ke alam semesta ini. Ada istilah Siwa Raditya artinya Dewa Siwa pun memuja Matahari. Dan selanjutnya memuja Istadewata (dewata pujaan), serta memuja Manifestasi Tuhan yang berstana dilingkungan setempat sesuai dengan sifat dan fungsi-Nya. Dalam catatan sejarah Bali Kuno disebut: Hyang Danawa (dewa danau), Hyang Gunung (dewa gunung), Hyang Api (dewa api), Punta Hyang (dewa resi), Hyang da Tonta (dewa pancering jagat), Hyang Bukit Tunggal (dewa bukit tunggal), Hyang Karimana (dewa karimana), Hyang Pucak Tegeh (Pura Gunung Penulisan), Hyang Parama Kawi (dewa sastra), Hyang Widhi (sinar suci Tuhan), dan sebutan lainnya.

B. Memuja Tuhan Melalui Media: Arca, Gambar, Pratima, Upakara, Simbol Penghubung ke Alam Kosmis, Hyang Widhi

Seseorang disamping memuja langsung hasil ciptaan-Nya, dalam mengungkapkan perasaan isi hati, baik berupa harapan, permohonan dan tujuan kepada-Nya, juga menggunakan nyasa/simbol-simbol tertentu. Bagi umat awam simbolisme mendapat tempat yang sangat penting dalam penghayatan, dalam proses pendekatan diri kepada Tuhan/Hyang Widhi. Simbolisme religius akan menghasilkan kreatifitas seni dan budaya yang religius pula. Benda-benda alam sebagai manifestasi perwujudan-Nya, yang disucikan, diupacarai, dan dipuja-puji, diyakini bisa menghasilkan nilai magis/gaib yang tidak bisa dipecahkan oleh akal sehat dari pikiran manusia.

Para Maha Rsi Hindu zaman dahulu bersifat konsisten melakoni kehidupan wanaprasta, yaitu menjalani kehidupan dengan melepaskan keterikatan-keterikatan pemuasan jasmani dalam proses pencaharian jati diri terhadap Tuhan. Sehingga hasil perenungan para resi zaman dahulu, diwujud-nyatakan ke dalam bentuk seni dan diaplikasikan sifat dan fungsi Tuhan dalam bentuk; arca, gambar, pratima, upakara, bahasa, tari wali. Yang mempunyai nilai estetis, nilai simbolis, dan nilai spiritual. Seperti apa yang telah diwariskan oleh para leluhur kita terdahulu, misalnya; sifat dan fungsi Tuhan sebagai pembasmi kejahatan tampak tangan arca disimbolkan membawa kapak, fungsi Tuhan sebagai asal ilmu pengetahuan tampak tangan arca disimbolkan membawa lontar, sifat Tuhan sebagai penyejuk tampak tangan arca membawa sibuh (tempat tirta), serta diwujudkan dan digambarkan dengan banyak tangan sesuai fungsi dan kebesaran-Nya.

Demikian pula simbol-simbol yang terdapat dalam upakara bebantenan misalnya; daksina lambang stana Ida Hyang Widhi/Tuhan. Sedangkan banten guru piduka adalah mengandung nilai permohonan maaf umatnya. Banten porosan yang terdiri dari pinang yang berwarna merah simbol Dewa Brahma, daun sirih yang berwarna hijau simbol Dewa Wisnu, dan kapur yang berwarna putih simbol Dewa Siwa. Dengan demikian alam semesta sebagai hasil ciptaan-Nya adalah sakti-Nya dari pada Tuhan. Melalui ajaran agama atau sekte dijabarkan tentang hakikat ketuhanan tersebut. Kata sekte/agama adalah kelompok orang yang mempunyai kepercayaan akan pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lazim diterima oleh para penganut agama tersebut, misalnya: sekte siwa, sekte bhuda, sekte waisnawa, sekte sakta, sekte indra, sekte bhairawa, sekte surya dan lain-lain.Yang mempunyai jalan dan identitas diri masing-masing, yaitu; ada istadewata (dewa pujaan), ada kitab suci, tempat ibadah, orang-orang suci, hari-hari suci, sarana yang dipakai, dan ada pengikutnya.

Dengan demikian seseorang yang ingin mengetahui hakikat dan kebesaran Tuhan ialah dengan jalan menjadi pengikut dari salah satu sekte/agama yang dianggap resmi oleh pemerintahan disaat itu yang diyakini menjadi penuntun dalam kehidupan ini. Dimana para Brahmana dari sekte tersebut dipercaya sebagai penerima wahyu atau sebagai penghubung dari alam niskala ke sekala begitu pun sebaliknya. Disamping sebagai pengajar dan menyebarkan agama Hindu dalam rangka pembinaan mental spiritual, juga peranan tokoh agama dalam bidang pemerintahan khususnya sebagai guru spiritual yang memberikan nasehat kepada raja, baik tentang ilmu pemerintahan, ilmu dialektika, ilmu tentang atman dan lain-lain

C. Memuja Tuhan Melalui Animisme dan Dinamisme, Media Komunikasi Antara Alam, Manusia dan Dewa Tetinggi Sekitarnya

Setelah masuknya agama Hindu di Bali, para penyebar (misionaris) agama Hindu sebegitu jauh hanya berhasil meng-Hindu-kan agama orang-orang Bali Aga (aga = gunung, orang Bali yang tinggal di pegunungan) dan Bali Mula (orang Bali yang hidup sebelum masuknya agama Hindu), namun belum secara tuntas merubah keyakinan penduduknya. Hal itu disebabkan sampai saat kini keyakinan masyarakat setempat lebih berdasarkan kepada kepercayaan lokal (local genius) yang telah diwariskan oleh para tetua mereka terdahulu, yaitu percaya dengan adanya roh/atma (butir ke 2 dari Panca Sradha) dan kekuatan alam sekitarnya, yang menjadikan mereka tunduk dan taat padanya.

Dalam buku Panca Dhatu (Donder.2004:68), mengutip kitab Brhad Aranyaka Upanisad II.15 menjelaskan, “Sesungguhnya Roh itu menguasai semua benda, Roh adalah raja dari semua benda. Sebagaimana halnya semua jari-jari dari roda itu disatukan di dalam sumbu rodanya, demikian juga halnya semua Roh dari semua benda, semua dewa, seluruh alam, semua makhluk hidup, semuanya disatukan dalam satu kesatuan yang Maha Besar”.

Dalam filsafat ketuhanan disebut Animisme dan Dinamisme, adalah suatu keyakinan segala sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh roh (asal kata rauh) yang berbeda-beda. Dan mempunyai kekuatan alami dari masing-masing benda itu, baik roh para dewa, roh leluhur, roh hewan, dan roh seluruh benda yang bergerak dan tidak bergerak, bahkan dengan perkataan lain, semua benda berjiwa. Kita hidup karena mengorbankan jiwa mahluk lain sebagai penyambung hidup ini, begitupun sebaliknya, mahluk lain dengan kekuatan yang dimiliki akan ‘memangsa’ jiwa mahluk lain dan seterusnya, sesuai dengan sifat dan fungsi dari mahluk tersebut.

Karena manusia mempunyai; akal, pikiran, dan kelebihan lain yang tidak didapat pada hewan, sehingga manusia menjadi media komunikasi ke alam kosmis. Seperti diketahui, fenomena kerauhan (kedatangan roh), yang sering terjadi baik di sekolah, di pesantren, di tempat kerja, di pura, juga dalam pementasan tari Barong dan Rangda dalam upacara keagamaan yang ada di Bali Selatan khususnya, sebagai bukti bahwa telah terjadi hubungan yang harmonis antara, manusia, alam, dan dewa sekitar/Tuhan. Dengan adanya kekuatan lain (kedatangan roh) ke tubuh manusia, bisa kerauhan dewa, kerauhan resi, kerauhan pitra, kerauhan manusa, dan kerauhan bhuta. Yang sangat sulit dimengerti, bagaimana roh hewan bisa merasuki tubuh manusia, sedangkan roh manusia tidak bisa merasuki tubuh hewan dan bisa berbahasa manusia pula. Bukankah ini aneh, seseorang bisa kebal seketika disaat akhir acara puja wali, pepatih (orang kerasukan roh lain) akan menyebut diri lebih dahulu pararencang (kelompok bhuta) mana yang ngaturan ngayah, misalnya:

ngayah macan gading, ngayah pongpong mal, ngayah gregek tunggek, ngayah pancung segara, ngayah leak barak, ngayah leak poleng, ngayah buta siu, ngayah batu kitik, ngayah gagak ghora, ngayah bluncat, ngayah blego, ngayah putih jimbaran, dalem petak, ngayah kobar api, ngayah grobag besi, ngayah kupu-kupu harum, ngayah bojog putih, ngayah blatuk tanah, ngayah dalem kahyangan, ngayah cerucuk kuning, ngayah jangkrik gading, ngayah penyu, ngayah titiran, ngayah kelelawar, ngayah waduk brerong . . .

Dan mungkin ribuan roh yang belum terwakili, sebelum menusuk-nusuk dirinya dengan sebilah keris (taji bahasa alam sana) bahkan lebih dari satu. Sebagai wujud ikhlas dan bukti utusan dari wilayah lain atas kehadirannya, tentunya ada hubungan historis dengan keberadaan suatu tempat (pura) tersebut.

Disamping fungsi kerauhan untuk mengetahui bahwa upakara dan upacara telah diterima oleh Dewa/Bhatara yang berstana di suatu tempat. Juga dalam pengesahan perubahan status dan fungsi dari suatu kahyangan (pura), misalnya dalam perubahan status dan fungsi dari kahyangan desa menjadi kahyangan jagat, atau perubahan status dan fungsi dari pura Ibu menjadi pura Panti, dan dari pura Panti menjadi pura Dadya, dan sebagainya. Siapakah yang patut mengabsahkan perubahan status dan fungsi pura tersebut? Karena pura peruntukan bagi para dewa dan roh leluhur yang disucikan, yang tentunya tidak dilihat oleh kasat mata.

Seseorang yang dipinjam badan raganya oleh kekuatan dewa adalah orang-orang khusus sesuai kriteria yang ditentukan oleh kekuatan alam/gaib, misalnya; seseorang yang ‘ditunjuk’ sebagai pengadegan (mediator) dari Dewa/Bhatara yang berstana di pura setempat, orang itu harus kerauhan berkali-kali di pura mana akan mengabdi. Disamping itu calon sadeg akan dipertemukan antara Guru Niskala (peminjam raga) dengan Bhatara Hyang Guru (Kawitan pemilik jiwa, rohani) atas ijin Bhatara Kawitan bahwa sentana (keturunannya) akan dipakai sebagai kekudan, sadeg, pedasar, baik melalui kasat mata, impian, atau ditunjuk oleh orang suci. Pada saat pertemuan segitiga itu, kita akan mengenal wajah beliau, warna kulit beliau, busana yang dipakai dan karakter lainnya. Selanjutnya baru menerima petunjuk lewat pawisik dari guru pembimbing niskala. Serta pantangan-pantangan lain yang mesti dilakoni, melanggar dari aturan secara tiba-tiba akan kerauhan, kaku ditempat, kesakitan, dan keadaan yang tidak menyenangkan lainnya. Yang pada akhirnya mereka harus tunduk dan taat pada kekuatan gaib yang ada disekitarnya, itulah ajaran langsung yang mesti dilakoni oleh orang pencari pencerahan rohani. Disamping keriteria lain yaitu orang yang dipakai badan raganya tidak lepas dari garis keturunan (genetics) para leluhur yang ikut merintis sejak awal sejarah keberadaan suatu tempat atau pura tersebut.

Orang yang kerauhan dewa adalah sangat di istimewakan oleh tetua desa setempat karena dalam meminta petunjuk yang ada keterkaitan dengan parahyangan, pawongan, palemahan, pada suatu tempat, atau untuk mencari pengganti jero mangku, sadeg, kekudan, juru-juru, dan lainnya. Orang yang karauhan dewa ini dihaturkan geni/api, pesucian, harum-harum, kekidung, busana, serta upakara lain, karena sadeg itu sebagai media komunikasi ke alam kosmis dan sebaliknya.

Kerauhan adalah tahap awal menuju pintu gerbang ke-sulinggih (pendeta), pada akhirnya seorang sulinggih yang akan mengantarkan seluruh yadnya yang dihaturkan oleh umatnya, melalui bahasa akan kita ketahui kemana arah yadnya tersebut dihaturkan, apakah memakai bahasa dewa, bahasa resi, bahasa manusa, bahasa pitra, bahasa bhuta, sesuai dengan panca yadnya (lima korban suci) yang ada di Bali saat kini yaitu: korban suci yang dihaturkan untuk para: dewa, resi, pitra, manusa, bhuta.

Karena seluruh pertanggung-jawaban seorang sulinggih adalah ke alam niskala atau ke alam tak nyata. Siapakah sebenarnya yang mengabsahkannya? Disini akan kelihatan pada puncak dari resi yadnya padiksan adalah dalam acara seda raga (mati raga). Apakah mati raga karena kekuatan alam, atau mati raga karena kekuatan guru napak, atau mati raga hanya seremonial belaka untuk meneruskan siwapakarana leluhur yang telah ada sebelumnya di griya (rumah pendeta)

Mati Raga karena kekuatan alam, roh calon pendeta itu akan dijemput oleh guru niskala (guru pembimbing tak nyata) di daerah Pura Dalem diajak berjalan kearah kelod kauh (baratdaya) atau arah kematian, disana beliau akan melihat atma (roh) yang sedang menjalani hukuman akibat dosa yang telah diperbuat di dunia nyata, misalnya: Buta Mracu akan menghukum roh para ibu yang dengan sengaja tidak mau menyusui bayinya tampak sang ibu disusui oleh ulat, roh yang suka mengganggu istri orang lain yang telah bersuami akan mendapatkan hukuman pembakaran kelamin oleh Buta Jengitan dan sebagainya. Batas antara walaka (orang biasa) dengan sulinggih (pendeta) akan dibatasi oleh kawah mendidih dengan titi ugal-agilnya sesuai dengan gambar dilangit-langit Bale Kambang di Kertagosa, Klungkung (Warsika, 1986:17). Setelah roh calon pendeta itu kembali ke badan raga baru dinamakan dwi jati (lahir dua kali, tahu sekala niskala) Dengan perkataan lain roh calon pendeta mengalami pergi ke neraka dan melihat hasil perbuatan para atma (roh) setelah kematian. Hari wisuda alam niskala pada hari Siwa Ratri, tilem ka pitu dengan turunnya weda Bhatara Siwa (Pura Dalem) yang diucapkan oleh calon pendeta dan dibimbing guru niskala bliau. Pada saat itu puja-puji akan diucapkan secara otomatis, dimana sebelumnya beliau tidak pernah belajar pada seorang guru maupun menghafalkan mantram atau puja-puji.

Sedangkan Mati Raga karena kekuatan guru napak (pendeta pembimbing nyata) adalah mati raga atas kekuatan atau kemauan dari guru napak disuruh menari pun misalnya calon pendeta itu akan menari, disuruh tidur calon pendeta itu akan tidur, sesuai keinginan dari guru napak. Semacam terhipnotis, adalah suatu tehnik yang digunakan untuk memasuki alam bawah sadar manusia secara cepat dengan kekuatan magis yang dapat membuat orang lain tunduk dan tertidur, dilakukan berbagai cara, misalnya; dengan pendulum, tatapan mata, tehnik nafas, verbal/mantram, atau sentuhan pada bagian tubuh tertentu.

Kerauhan haruslah melalui beberapa proses berjenjang sebelum sampai pada kerauhan dewa. Konsep ini dianalogikan dengan proses belajar mengajar pada sebuah akademik, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sampai perguruan tinggi, dan selanjutnya. Seseorang yang memulai dengan pencaharian jati diri dengan keyakinan kedatangan roh (kekuatan lain), baik roh: batu, tumbuh-tumbuhan, bebai, bebutan, para rencang, para kanggo, manusa, pitra, dewa pitara, dewa, Hyang Widhi. Dalam penerapan kehidupan sehari-hari menjadi pedasar, matetamban, jero mangku, jero gede/ida bhawati, wiku ngeraga, wiku ngalokapalasrya, wiku acharya, dan selanjutnya Yang membedakan hanya pertanggung-jawabannya saja, kalau mengikuti jenjang akademik pertanggung-jawabannya ke dosen (manusia), sedangkan sulinggih (pendeta) pertanggung-jawabannya ke alam tak nyata/Tuhan. Hari kelulusan (wisuda) calon diksita di alam niskala adalah hari siwaratri, yaitu tilem ke tujuh dengan turunnya weda dewa Siwa (Bhatara Dalem).

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bagi seseorang yang tidak mendapat ‘perintah’ dari leluhur-Nya untuk menjadi seorang pendeta atau dengan perkataan lain atas kemauannya sendiri ingin menjadi sulinggih (pendeta). Calon pendeta (diksita) itu semestinya wajib di-wanaprasta-kan atau diungsikan ke enam tempat yang menunjang kehidupan dunia ini antara lain; laut, gunung, hutan, danau, sungai, dan tempat guru napak dalam proses menempa mental spiritual seseorang untuk melepaskan sedikit demi sedikit keterikatan nafsu duniawi (Perjalanan spiritual alm.Ida Pandita Dukuh Dhaksa Dharma Yoga, Padukuhan Karang Buncing, Carangsari).

dikutip oleh : pesemeton sri karang buncing

MAKNA GALUNGAN

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan.

Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali.

Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi.

Dalam lontar itu disebutkan: Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya:

Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun.

Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa.

Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).

Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya.

Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Dikutip : Paresemeton IA & IB Facebook Group

BABAD ARYA WANG BANG PINATIH


Ida Bang Banyak Wide Menyunting I Gusti Ayu Pinatih
Diceriterakan sekarang, betapa bahagianya hati Ida Mpu Sedah, Ida Wang Bang Banyak Wide - putra angkatnya disayang banar. Singkat ceritera, sekarang Ida Bang Banyak Wide sudah berdiam di Geria Daha, di Geriya kakek beliau Ida Mpu Sedah. Dikisahkan kemudian Ki Arya Buleteng, yang menjadi patih di Kerajaan Daha, mempunyai seorang putri benama I Gusti Ayu Pinatih. I Gusti Ayu Pinatih, tatkala itu sudah remaja putri, parasnya cantik nian, bagaikan Dewi Saraswati nampaknya, serta juga bijaksana dan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, cocok memang sebagai putri seorang bangsawan, serta sangat dimanja oleh ayah bundanya dan semua keluarganya. Puri Ki Patih Arya Buleteng itu tidaklah demikian jauh dari tempat tinggal Geria Ida Mpu Sedah, dan lagi pula sering Ida Mpu Sedah beranjangsana ke Puri sang Patih. Demikian juga putra sang Mpu, Ida Bang Banyak Wide, sering berkunjung ke Puri. Dan semakin lama semakin sering sang teruna remaja berkunjung ke Puri, untuk menghadap kepada sang patih, namun yang paling utama adalah untuk bertemu dengan I Gusti Ayu Pinatih. Lama-kelamaan semakin bersemi cinta kasih di antara sang teruna dan sang dara, tidak bisa dipisahkan lagi. Lalu diambillah I Gusti Ayu Pinatih oleh Ida Sang Bang. Itu sebabnya marah besar Ki Arya Buleteng, disebabkan putri beliau diambil oleh Ida Sang Bang Banyak Wide. Kemudian datanglah Ki Arya menghadap sang Mpu, menyampaikan prihalnya beliau memiliki anak hanya sorang. Disebabkan karena putra sang Mpu juga hanya seorang yakni Ida Sang Bang Banyak Wide, maka menjadi sangat prihatin perasaan keduanya, dan berkehendak akan memisahkan kedua teruna-daha itu. Tiba-tiba Ida Sang Bang Banyak Wide menghaturkan sembah di hadapan Ida Mpu seraya mengatakan bahwa sama sekali beliau tidak mau dipisahkan dengan I Gusti Ayu Pinatih. Kalau saja dipisahkan, tak urung mereka akan membunuh diri berdua. Itu sebabnya beliau tak bisa berkata-kata. Kemudian berkata Ki Arya Buleteng, menjelaskan keinginan beliau : ? Aum sang mahapandita, jikalau begitu kehendak ananda sang Mpu, kalau menurut saya, kalau saja ananda sang Mpu mau menjadi putraku, sampai di kelak kemudian hari, saya berikan putri saya kepada ananda Sang Bang?, demikian atur Ki Arya Buleteng. Belum selesai perbincangan beliau berdua, segera menghaturkan sembah Sang Bang Banyak Wide : ?Duh, beribu maaf, ayahanda Ki Arya Buleteng serta ayahanda sang Pendeta, jikalau demikian keinginan mertua nanda, ananda menuruti kehendak mertua hamba, dan jika nanti hamba memiliki keturunan, agar menjadi Arya.
Anugrah Ida Mpu Sedah
Semakin tak bisa berkata-kata lagi Danghyang Mpu Sedah mendengar atur putranya, namun sang Pandita menyadari bahwa semuanya itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa, lalu berkatalah beliau ?Ah anakku, juwita hatiku Sang Banyak Wide, nah karena sekarang ananda
berkehendak menjadi pratisentana - putera dari Ki Arya Buleteng, maka dengarkanlah ini, tanda cinta kasihku kepadamu anakku:
?Sloka: Wredhanam kretanugraham, jagadhitam purohitam, wacanam wara widyanam, brahmanawangsatitah, Siwatwam, pujatityasam, trikayam pansudham, kayiko, waciko suklam, manaciko sidha pumam. Puranam tatwam tuhwanam, silakramam, sirarya pinatyam maho, witing kunam purwa Daham.?
Berkatalah kemudian Ida Sang Pandita: ?Aum, Sang bang, inilah merupakan titah Yang Maha Kuasa, berupa aturan sidhikarana yang kakek berikan kepadamu, perjalanan sejarah dan status brahmana yang dahulu, sekarang menjadi Arya Pinatih, ini ada tanda kasihku padamu berupa keris sebuah, bemama Ki Brahmana Siwapakarana - peralatan pemujaan pendeta, pustaka weda, itu semua agar dipuja, sebagai pusaka yang berkedudukan bagaikan kawitan-leluhurmu, sebagai pertambang jati dirimu sebagai Arya Bang Pinatih, yang berasal dari brahmana dahulu. Ada nasehatku juga, kalau ada keturunan Arya Wang bang, tahu tentang Filfasat Kedharman, kokoh melakukan tapa yoga brata, memiliki ilmu pengetahuan yang berguna, pandai akan ilmu kerohanian, serta selalu mengupayakan ketrentraman, menganut prilaku Brahmana Wangsa, dapat didiksa, menjadi pendeta maharesi. Ingatlah hal ini. Serta ada pula anugerahku, kepada mu, jika ada yang tahu tentang siapa yang membawa pusaka itu di kemudian hari, menyucikan diri sanak saudaramu kelak, dan bila sesudah meninggal, bilamana sanak saudara yang telah menyucikan diri meninggal, jika melakukan upacara atiwa-tiwa - palebon, berhak memakai sarana upacara seperti seorang brahmana lepas, berhak mempergunakan padmasana, serba putih, serta segala sarana upacara sebagai sang brahmana, pendeta. Bilamana yang meninggal adalah walaka, bilamana memperoleh kebahagiaan utama memegang kekuasaaan serta memiliki banyak rakyat, berhak mempergunakan bade bertumpang 9, petulangannya lembu, semua sarana yang dipakai ksatriya, terkecuali naga bandha, berhak dipakainya. Serta bila walaka biasa meninggal, jika mengadakan upacara atiwa-tiwa-pitra yadnya, berhak mempergunakan bade tumpang 7, serta sarananya, demikian yang berlaku pada Arya Pinatih. Habis.
Serta prihal keadaan kacuntakan bagi Ki Arya Pinatih, yang - karenanya ingatlah sampai di kemudian hari, jika meninggal bayi belum kepus pungsed, cuntakanya 7 hari, jika meninggal bayi sesudah kepus pungsed, cuntakanya 11 hari, namun belum tanggal gigi. Jika ada yang meninggal sudah dewasa, remaja atau sudah tua, cuntakanya satu bulan 7 hari. Jangan lupa pada nasehatku ini. Serta ada lagi nasehatku, di kemudian hari, dalam hal bersanak-saudara, jika ada orang luar desa datang, berkehendak untuk ikut menyungsung - menyembah Sanghyang Kawitan Ki Brahmana serta Siwopakarananya, mengaku Sira Arya Pinatih, walaupun orangnya nista madhya utama, janganlah ananda kadropon, perhatikan dahulu, jikalau tidak mau anapak
sahupajanjian Sanghyang Kawitan, bukan sanak saudaramu itu. Jika dia mau anapak Sanghyang Kawitan walaupun nista, madya utama, sungguh dia bersanak saudara denganmu, dan berhak ikut menyungsung bersama, bhatara Kawitan, walaupun jauh tempat tinggalnya. Serta sanak saudaramu si Arya Pinatih tidak boleh anayub dewagama lawan patunggalan dadya, jika melanggar nasehatku ini, hala tunggal, hala kabeh - satu menemui celaka, semuanya celaka. Serta kemudian tidak bisa disupat Sanghyang Rajadewa Kawitannya, oleh Pendeta Resi Siwa Budha, serta jika melanggar seperti nasehatku ini. OM ANG medhalong, ANG OM mepatang, ANG UNG MANG ti sudha OM NRANG OM. Semuanya paras paros, wetu tunggal, demikian pahalanya, jangan tidak periksa. Kukuhkan dirimu dalam mengamong kawitanmu, serta kukuh seperti nasehatku pada ananda, habis.?
Ida Bang Banyak Wide Berputra Ida Bang Bagus Pinatih / Sira Ranggalawe
Setelah mencari hari baik, maka diselenggarakanlah upara Perkawinan Agung di Puri Ki Arya Buleteng. Para raja-adipati, menteri-menteri serta sanak saudara se wilayah Daha semua diundang, dan yang terutama diundang adalah Ida Pendeta Siwa Budha yang akan memimpin upacara Pawiwahan - Pernikahan Agung itu. Tidak bisa diperpanjang lagi prihal upacara Perkawinan itu, semua rakyat menjadi riang dan gembira. Ida Sang Bang Banyak Wide sudah bertempat tinggal di Puri Patih Arya Buleteng, serta memakai nama Sang Arya Bang Banyak Wide. Kemudian I Gusti Ayu Pinatih melahirkan seorang putra laki-laki, dinamai Ida Bang Bagus Pinatih, mempergunakan nama sang ibu. Pada hari tertentu, diceriterakan anak Ida Bang Banyak Wide diculik oleh seorang raksasa. Namun tiada berapa lama, ditemui I Raksasa beserta putranya di sebuah goa. Saat itu Ida Bang Banyak Wide menghunus kerisnya Ki Brahmana. Baru keris itu dihunus gemetar seluruh tubuh I Raksasa, kemudian memohon hidup. Katanya : ?Inggih, sekarang ini agar tuanku suka memberi hidup kepada hamba. Dan sekarang saya menaruh janji agar sampai kelak di kemudian hari turun temurun, sepanjang hidup keturunan Tuanku, semoga tidak akan pernah dibencanai oleh kaum Durga?. Demikian ucap I Raksasa yang bernama Buta Wilis itu, kemudian menghilang. Singkat ceritera, Ida Bagus Pinatih sudah semakin besar, dewasa dan sudah mengambil isteri serta memiliki putra yang bernama sama dengan nama ayahandanya. Ida Bagus Pinatih juga bernama Pangeran Anglurah Pinatih atau Sira Kuda Anjampiani. Demikian dulu keadaaannya di kawasan Daha.
Ida Bang Banyak Wide Membantu Raden Wijaya Membangun Majapahit
Diceriterakan sekarang daerah Daha diserang oleh Raja Singasari serta kemudian dikuasai oleh Singasari. Ida Bang Banyak Wide tatkala itu menjabat sebagai Demang atau Patih pada saat pemerintahan Prabu Kertanagara tahun 1272 Masehi. Lama kemudian para menteri yang sudah tua di Singosari semuanya diturunkan pangkatnya masing-masing diganti dengan pejabat yang muda-muda. Saat itu patih tua Rangganata diberhentikan. Ki Arya Banyak Wide diturunkan jabatannya ke Sumenep menjadi Adhipati Madura bergelar Arya Wiraraja. Hal seperti itu jelas menjadi bibit tidak baik di kemudian hari. Lalu diceriterakan Prabu Singasari menyerang Tanah Melayu, semua bala tentaranya dikirim ke Tanah Melayu. Tatkala sang Prabu bersenang-senang di Puri, Ida Arya Bang Banyak Wide kemudian memberikan surat sindiran kepada Raja Daha yang bernama Prabu Jayakatwang tentang leluhur beliau yang bernama Dandang Gendis dirusak oleh sang Prabu Singosari. Patut sang Prabhu Daha membalas dendam kepada Sang Prabu Kerthanegara. Pemberitahuan Adipati Banyak Wide diluluskan oleh Sang Prabu Daha. Kemudian Singosari diserang oleh Daha, tidak urung kemudian kalah Singasari. Pada saat itu ada putra Singasari yang berama Raden Wijaya secara sembunyi-sembunyi datang ke Madura, bermaksud bermitra dengan Adipati Madura. Sesampainya di Madura, diadakan daya upaya, agar Raden Wijaya mau menyerahkan diri kepada Prabu Kediri. Sang Bang Banyak Wide atau Arya Wiraraja akan memohonkan jabatan untuk Raden Wijaya agar menjadi orang penting di Keraton. Kemudian Raden Wijaya agar memohon kepada Raja agar diberikan hutan Tarik dengan alasan untuk dipakai tempat raja bersenang-senang. Ida Bang Banyak Wide sanggup akan memberikan bala sahaya serta Raden Wijaya agar memberitahukan kepada rakyat di Tumapel ikut membuat tempat tinggal di alas Tarik. Singkat ceritera, hutan Tarik itu sudah diberikan, kemudian Raden Wijaya di tempat itu membuat pasraman, kemudian diberi nama tempat itu Majapahit atau Wilwatikta disebabkan karena banyaknya buah maja yang pahit ditemukan di sana. Disebabkan pekerjaan merabas hutan itu dipimpin oleh Ida Bagus Pinatih, putra Ida Sang Bang Banyak Wide atau Arya Wiraraja, maka kepada Ida Bagus Pinatih diberikan gelar sebagai Sira Ranggalawe. Sekarang ada daya upaya dari Raden Wijaya akan menyerang wilayah Kediri. Namun demikian Ida Arya Wiraraja atau Arya Bang Banyak Wide memberitahu, agar menunggu kedatangan prajutir Tartar yang juga akan menyerang Kediri. Arya Wiraraja sudah mengadakan perjanjian dengan Pasukan Tartar akan secara bersama-sama menyerang Kediri. Di tahun Masehi 1292, kerajaan Kediri kemudian diserang oleh prajurit Tartar dan prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Arya Wiraraja serta putranya Sira Ranggalawe. Ramai nian perang itu. Tanpa disangka akhirya kalah Kediri serta Prabu Jayakatwang berhasil ditawan. Sejak saat itu Raden Wijaya kemudian menjadi raja dengan gelar Srimaharaja Kertharajasa Jayawardhana.
Sira Ranggalawe Memberontak
Dikisahkan sekarang Sira Ranggalawe menjabat sebagai Menteri Amanca Negara, memerintah kawasan Tuban. Arya Wiraraja tidak diperkenankan untuk berdiam di Madura, diperintahkan untuk bertempat tinggal di Majapahit, sebagai Tabeng Wijang Ida Prabu Kertharajasa. Sejak saat itu Bhupati Arya Wiraraja berganti gelar, dimaklumkan di seluruh penjuru negeri sebagai Rakriyan Mantri Arya Adikara. Diceriterakan Ida sang Prabhu di Majapahit menyelenggarakan pentemuan besar membahas prihal rencana penunjukan Patih Amengkubhumi. Kemudian, saat itu Ida Sang Prabu menunjuk Sira Patih Nambi menjadi Patih Amengkubhumi. Keputusan itu kemudian didengar oleh Sira Ranggalawe, kemudian beliau menghadap ke Kraton Majapahit, berhatur sembah kepada Ida Sang Natha Kertharajasa, berkenaan dengan keputusan Ida Sang Prabhu, yang sudah diumumkan di seluruh negeri yakni Ki Patih Nambi diangkat menjadi Patih Amengkubhumi, hanyalah satu upaya yang tidak berguna, jelas negeri ini akan menjadi tidak baik, sebab Ki Patih Nambi sudah nyata-nyata pengecut di medan laga. Yang sebenarnya patut dipertimbangkan soal kesetiannya di medan perang hanyalah Ki Lembu Sora atau diri beliau sendiri Sira Ranggalawe, yang patut diangkat menjabat sebagai Patih Amengkubhumi. Itu sebabnya menjadi kacau pertemuan itu. Diceriterakan sekarang, karena tidak dipenuhinya keinginan Sira Ranggalawe, maka bermohon diri Sira Ranggalawe pulang menuju Puri Madura, memberitahukan kepada ayahandanya prihal rencananya akan menyerang Majapahit, akan menantang Ki Patih Nambi. Disebabkan karena tidak bisa lagi dihalangi keinginan anaknya Sira Ranggalawe, maka Arya Wiraraja tiada bisa berkata lagi. Kemudian menjadi riuhlah perang yang terjadi, bala tentara Sira Ranggalawe dihadapi pasukan dari Majapahit. Sira Ranggalawe direbut. Akhirnya terjadilah perang tanding antara Sira Ranggalawe melawan Kebo Anabrang , yang akhirnya keduanya meninggal di medan laga di Sungai Tambak Beras. Kemudian adalah utusan yang menghadap ke Purinya sang ayah Sang Arya Bang Wiraraja. Singkat ceritera, sang utusan sudah berjalan untuk menghadap Ki Arya Adikara di Puri Tuban, serta semuanya sudah dipermaklumkan tentang sabda Raja Majapahit, serta segala hal yang berkenaan dengan wafatnya Adipati Ranggalawe, dimana jenazahnya sudah berada di Puri Majapahit. Arya Adikara, setelah mendengar atur sang utusan dari Puri Majapahit, segera memberitahukan rakyat beliau, sanak saudara sampai kepada cucunya untuk semuanya bersama-sama menghadap ke Puri Majapahit untuk menyelesaikan tata upacara Palebon putra beliau. Setelah selesai upacara palebon itu, Adipati Arya Adikara memohon diri dari Puri Majapahit diiringi oleh isteri, menantu serta cucunya, kembali ke Puri Tuban.
Ida Bang Banyak Wide Memegang Kekuasaan di Lumajang
Tidak berapa lama, Ida Sang Prabhu kemudian memberikan anugerah berupa sebagian kawasan timur sampai ke pesisir selatan kepada Sang Arya Bang Wiraraja, disebabkan ingat dengan perjanjiannya dahulu. Sejak saat itu Sira Arya Bang Wiraraja menjabat sebagai penguasa di kawasan yang bernama Lumajang, diiringi oleh cucunya yang bernama Ida Bagus Pinatih atau Anglurah Pinatih atau juga disebut Sira Arya Bang Kuda Anjampyani pada tahun 1295 Masehi. Lama kemudian, ketika Ida Arya Bang Adhikara berumur tua, tidak berselang lama beliau menjabat sebagai penguasa di Puri Ksatriyan Lumajang, kemudian beliau wafat menuju Sorgaloka. Kemudian cucu beliau. Sira Bang Kuda Anjampyani dijadikan pejabat di Majapahit menggantikan kedudukan kakek beliau bergelar Kyayi Agung Pinatih Mantra. Inggih, hentikan dahulu keberadaaan Ida Bang Banyak Wide di kawasan Jawa.
Para Raja di Jawa
Dikisahkan juga para raja yang berkuasa di Kerajaan Majapahit. Sri Maharaja Kertharajasa Jawardhana yang menjadi raja pada tahun 1294-1309, digantikan oleh putranya Maharaja Jayanegara atau Kala Gemet dari tahun Masehi 1309 sampai dengan 1328. Kemudian Bre Kahuripan /Tribuwana Tunggadewi menjabat raja pada kurun waktu tahun Masehi 1328-1350. Beliau kemudian digantikan oleh Sri Hayam Wuruk pada tahun Masehi 1350-1389. Pada tahun Saka 1258 atau tahun Masehi 1336, Kriyan Gajah Mada diangkat menjadi Patih Amengkubhumi atau Mahapatih. Kepandaran dan keperwiraan sang mahapatih demikian terkenal sampai kelak di kemudian hari. Ada Sumpah Amukti Palapa yang dikumandangkan oleh Kriyan Mahapatih Gajah Mada pada tahun Masehi 1336 itu. Adapun isi Sumpah tersebut : ?Jika telah berhasil menundukkan Nusantara, saya baru akan beristirahat. Jika Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik telah tunduk, saya baru beristirahat.?, demikian ucapan sumpah beliau ke hadapan sang ratu Rani Tribuwanatunggadewi. Kemudian ternyata pada tahun Isaka 1265 Bali diserang. Demikian keberadaan Ida sang Mahapatih Gajah Mada.
Dalem Bedaulu Kalah, Ida Dalem Kresna Kapakisan Menjadi Raja di Bali
Sekarang kembali diceriterakan perihal di Pulau Bali. Dikisahkan di Bali adalah raja bernama Sri Gajah Waktera yang dikatakan sebagai seorang pemberani serta sangat sakti. Disebabkan karena merasa diri sakti, maka keluarlah sifat angkara murkanya, tidak sekali-kali merasa takut kepada siapapun, walau kepada para dewa sekalipun. Sri Gajah Waktera mempunyai sejumlah pendamping yang semuanya
memiliki kesaktian, kebal serta juga bijaksana yakni : Mahapatih Ki Pasung Gerigis, bertempat tinggal di Tengkulak, Patih Kebo Iwa bertempat di Blahbatuh, keturunan Kyai Karang Buncing, Demung I Udug Basur, Tumenggung Ki Kala Gemet, Menteri Girikmana - Ularan berdiam di Denbukit, Ki Tunjung Tutur di Tianyar, Ki Tunjung Biru berdiam di Tenganan, Ki Buan di Batur, Ki Tambiak berdiam di Jimbaran, Ki Kopang di Seraya, Ki Kalung Singkal bertempat tinggal di Taro. Prihal keangkara-murkaan Sri Gajah Waktera itu, diketahui oleh raja Majapahit Singkat ceritera, setelah Ki Patuh Kebo Iwa dikalahkan dengan tipu daya, maka diseranglah Bali oleh Kriyan Mahapatih Gajah Mada didampingi para perwira perang seperti Arya Damar sebagai pimpinan diiringi oleh Arya Kanuruhan, Arya Wang Bang yakni Kyai Anglurah Pinatih Mantra, Arya Kepakisan, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Belog, Arya Mangun, Arya Pangalasan serta Arya Kutawaringin.
Kemudian diceriterakan pada perang yang terjadi tahun 1343 Masehi itu, di Tengkulak Peliatan, Raja Tapolung beserta para patihnya yang bemama Kebo Warunya dan I Gudug Basur gugur di medan perang. Namun Ki Pasung Gengis patih utama Dalem Bedaulu dapat ditawan. Tiada lama kemudian Ki Pasung Gerigis menyatakan dirinya menyerahkan diri dan berbhakti kepada Raja Majapahit, karena itu diperintahkan untuk mengalahkan Raja Sumbawa yang bernama Dedela Natha. Akhirnya keduanya wafat di dalam perang tanding. Sesudah Raja Bedaulu mangkat, maka Pulau Bali sunyi tidak memiliki penguasa, karena itu timbul huru hara. Sebelum itu Ki Patih Gajah Mada sudah memohon putra Ida Mpu Danghyang Soma Kepakisan - sebagai pendeta guru utama di Kediri, yang bernama Ida Sri Kresna Kepakisan, untuk diasuh di Majapahit. Ida Mpu Soma Kepakisan itu tiada lain saudara dari Ida Mpu Danghyang Panawasikan, Ida Mpu Danghyang Siddhimantra dan Ida Mpu Asmaranatha. Kemudian Ida Kresna Kepakisan mempunyai putra 4 orang, laki tiga, wanita seorang. Pada saat di Bali serta daerah lain tidak memiliki penguasa, serta dalam upaya menyelenggarakan Kesejahteraan di masing-masing wilayah, maka sesuai dengan perintah Raja Majapahit, Mahapatih Gajah Mada meminta putra Ida Sri Kresna Kapakisan yang sudah dewasa untuk dijadikan penguasa atau Dalem. Pada saat itu putra beliau yang sulung bernama Ida Nyoman Kepakisan diangkat dijadikan penguasa di Blambangan, Ida Made Kepakisan menjadi penguasa di Pasuruan, Ida Nyoman Istri Kepakisan/Dalem Sukanya di Sumbawa serta yang bungsu Ida Ketut Kresna Kepakisan, dijadikan penguasa di Bali. Oleh Mahapatih Gajah Mada, Ida Dalem Ketut Kresna Kapakisan dianugerahi pusaka Kris Ki Ganja Dungkul, serta berkedudukan sebagai Adipati. Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan - dari Pulau Jawa, turun di Lebih, kemudian ke arah timur laut berkedudukan di Samprangan. Di sanalah beliau membangun Puri pada tahun Masehi 1350. Sesudah beliau Ida Dalem bertempat tinggal di puri di Samprangan, mahapatih beliau I Gusti Nyuhaya bertempat tinggal di Nyuhaya, sementara para menterinya seperti Arya Kutawangin di Klungkung, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba, Arya Dalancang di Kapal, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di
Carangsari, Arya Kanuruhan di Tangkas, Kriyan Punta di Mambal, Arya Jrudeh di Tamukti, Arya Temenggung di Patemon, Arya Demung Wangbang Kediri yakni Kyai Anglurah Pinatih Mantra di Kertalangu, Arya Sura Wang Bang Lasem di Sukahet, Arya Mataram tidak tetap tempat tinggalnya, Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pamacekan di Bondalem, Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toya Anyar, Selain dan para Arya tersebut, ada yang kemudian datang yakni Tiga Wesya bersaudara : Si Tan Kober, diberikan tempat tinggal di Pacung, Si Tan Kawur diberi tempat tinggal di Abiansemal serta Si Tan Mundur berdiam di Cacahan.
Diceriterakan Kyai Angelurah Pinatih Mantra, diberikan tempat tinggal di Kerthalangu, Badung, menguasai kawasan Pinatih serta diberikan memegang bala sejumnlah 35.000 orang, yakni mereka yang merupakan rakyat dan Senapati Arya Buleteng. Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan sudah berusia senja kemudian di Samprangan beliau wafat berpulang ke Cintyatmaka pada saat mangrwa wastu simna pramana ning wang atau tahun Isaka 1302, tahun Masehi 1380. Beliau diganti oleh putranya Dalem Ketut Ngulesir yang bergelar Dalem Smara Kepakisan. Diceriterakan Kyai Anglurah Pinatih Mantra, memiliki putra laki seorang, bernama Kyai Anglurah Agung Pinatih Kertha atau I Gusti Anglurah Agung Pinatih Kejot, Pinatih Tinjik atau I Gusti Agung Pinatih Perot. Beliaulah yang dikenal menyerang serta mengalahkan kawasan Bangli Singharsa sewaktu pemerintahan Ngakan Pog yang menjadi manca di sana, sesuai dengan perintah Ida Dalem Ketut Ngulesir atau Ida Dalem Smara Kepakisan yang menjadi penguasa tahun Masehi 1380 sampai dengan 1460. Kyayi Anglurah Pinatih Mantra sudah tua, kemudian berpulang ke sorgaloka. Kyai Anglurah Pinatih Kertha Kejot berputra laki dan isteri pingarep bernama Ki Gusti Anglurah Pinatih Resi, dan isteri putri I Jurutkemong bernama Ki Gusti Anglurah Made Bija serta putra laki-laki dari sor bernama I Gusti Gde Tembuku. Diceriterakan kemudian, Kyai Anglurah Made Bija sudah mempunyai putra, namun kakaknya I Gusti Anglurah Pinatih Rsi belum beristeri. Para putra Gusti Anglurah Made Bija bernama I Gusti Putu Pahang, I Gusti Mpulaga utawi Pulagaan, I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Nyoman Jumpahi, I Gusti Nyoman Bija Pinatih dan I Gusti Ketut Blongkoran. I Gusti Bija Pulagaan, sesuai perintah Ida Dalem Ketut Smara Kapakisan kemudian menjadi Manca di kawasan Singharsa Bangli sejak tahun Masehi 1453.
Hentikan dahulu.
Anglurah Pinatih Rsi Menyunting Ida Ayu Puniyawati
Dikisahkan sekarang Ida Bang Panataran, putra Ida Wang Bang Tulus Dewa, bertempat tinggal di Bukcabe Besakih bersama adik sepupunya yang bernama Ida Bang Kajakauh atau Ida Bang Wayabiya. Diceriterakan Ida Bang Panataran, mempunyai seorang putri bernama Ida Ayu Punyawati, cantik tanpa tanding seperti bidadari layaknya, bahkan seperti Sanghyang Cita Rasmin yang menjelma. Banyak para penguasa dan pejabat yang melamar, namun tidak diberi. Karena sudah terkenal di seluruh pelosok negeri tentang kerupawanan beliau Ida Ayu Punyawati, maka hal ini didengar juga oleh Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi di Puri Kerthalangu, Badung. Kemudian Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi mengirim utusan untuk melamar Ida Ayu Punyawati. Yang ditugaskan untuk melamar Ida Ayu Punyawati, adalah adik disertai para kemenakan beliau yang bernama I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Putu Pahang, I Gusti Jumpahi. Itulah keponakan yang diutus, bagaikan Baladewa Kresna dan Arjuna, demikian kalau diperumpamakan, diiringi oleh bala rakyat yang jumlahnya cukup banyak mengiringkan. Tidak diceriterakan di tengah jalan, akhirnya sampailah di Geria Ida Bang Sidemen Penataran kemudian melakukan pembicaraan. Prihal lamaran itu diajukan seperti ini : ?Inggih Ratu Sang Bang, kami datang kemari hanyalah utusan dari Ki Arya Bang Pinatih, yang beristana di Kerthalangu kawasan Badung, yang merupakan paman kami, yang bermaksud untuk melamar puteri palungguh I Ratu akan dijadikan permaisuri?.
Kaget Ida Bang Panataran, seperti gugup tak bisa berkata-kata, kemudian menjawab:
?Saya sama sekali tidak mengerti dengan maksud Ki Arya Pinatih, karena tidak boleh sang Arya melamar sang Brahmana” Demikian ucap Ida Bang Sidemen Panataran.
Menjawab sang utusan I Gusti Gde Tembuku serta Gusti Putu Pahang : ?Ah bagimana rupanya ratu Bang Sidemen, mungkin tiada ingat dengan nasehat leluhur dahulu? Hamba berani melamar putri tuanku Bang Sidemen ke sini, karena kawitan hamba dahuhi sesungguhnya adalah wangsa Brahmana. Sekarang mohon didengar atur hamba agar merasa pasti. Pada saat dahulu ada nasehat dari leluhur hamba, yang bernama Ida Bang Banyak Wide, bersaudara dengan Ida Bang Tulus Dewa serta Ida Bang Kajakauh. Ida Bang Banyak Wide pergi dari Besakih guna mencari kakeknda Ida Sang Pandya Siddhimantra di Jawa, namun tidak dijumpainya, kemudian benjumpa dengan Ida Mpu Sedah, dan kemudian belakangan dijadikan menantu oleh Ki Arya Buleteng. Karena Ki Arya Buleteng tidak memiliki keturunan langsung atau sentana, maka Ida Bang Banyak Wide dijadikan sentana Ki Arya, sehingga Ida Bang Banyak Wide menjadi Arya. Ida Bang Banyak Wide itu merupakan leluhur kami yang menurunkan Ki Arya Pinatih Rsi”. Demikian halnya dahulu.
Nah, sekarang ini bagaimana Sang Bang Sidemen, apakah tidak ada ceritera dari Leluhur seperti itu? Demikian hatur I Gusti Gde Tambuku. Segera ingat Ida Sang Bang Sidemen,
pada nasehat dari sang leluhur kepada beliau, pada saat dulu. Karena mendengar hal itu, maka diberikanlah putri Ida Bang Panataran Sidemen kepada Ki Arya Bang Pinatih, dan dengan segera mau bersama menjadi Arya Ksatrian. Demikian pula Ida Bang Panataran menjadi Arya : Arya Bang Sidemen diwariskan sampai sekarang turun temurun bersaudara dengan Arya Bang Pinatih. Ida Bang Wayabiya, saat itu juga datang menghadap kakaknya berkehendak untuk melamar putri Ida Bang Panataran Sidemen yakni Ida Ayu Puniyawati. Karena sudah didahului oleh Ida I Gusti Anglurah Pinatih Rsi, lamaran itu tidak bisa dipenuhi. Itu sebabnya kemudian Ida Bang Wayabiya kemudian pergi tanpa pamit dari Besakih, tanpa tujuan. Perjalanan Ida Bang Wayabiya akan diceriterakan nanti. Kembali sekarang dikisahkan Ki Arya Bang Panataran, sudah selesai perbincangannya dengan Ki Arya Bang Pinatih, sebab semuanya memang benar menjaga nama
leluhurnya. Karena sudah selesai perbincangan itu, kemudian Ki Arya Bang Pinatih bertiga memohon diri, pulang menuju Kerajaan Kerthalangu. Sesudah selesal pembicaraan mengenal han baik berkenaan dengan rencana pemikahan itu, kemudian diselenggarakanlah upacara Pawiwahan itu seraya mengundang semua peng?asa serta rakyat dan warga. Tentram wilayah Pinatih ?pada saat pemerintahannya I Gusti Ngurah Pinatih Rsi serta adiknya Ida Gusti Ngurah Made Bija Pinatih.
Hentikan dahulu.
Diceriterakan kemudian sesudah beristerikan Ida Ayu Puniyawati, kemudian lahir putra beliau, yang sulung bemama Kyai Anglurah Agung Gde Pinatih , adiknya Kyai Anglurah Made Sakti, serta yang wanita bemama I Gusti Ayu Nilawati. Lama juga Kyai Anglurah Bang Pinatih Rsi bersama adiknya Kya Anglurah Pinatih Bija memegang kekuasaan di wilayah Jagat Kerthalangu, Badung, tentram wilayah itu, serta sang raja dipuja dengan taat oleh rakyat dan warga semuanya. Wilayah itu menjadi makmur, hama menjauh, mereka yang ingin berbuat jahat tidak berani. Inggih, demikian keadaannya di kawasan Kerthalangu.
Kyayi Kenceng Meminta Putra Dalem di Puri Gelgel
Diceriterakan Ki Arya Kenceng di Badung berkehendak akan memohon seorang putra Dalem Sagening di Puri Gelgel, akan dijadikan penguasa di kawasan Badung. Konon setelah sampai di jabs tengah atau halaman dalam Pun Gelgel di Sumanggen, terlihat oleh Ki Arya Kenceng api bagaikan lentera di Sumanggen, kemudian diperhatikan oleh Ki Arya Kenceng, sudah pasti hanya dia itu adalah putra Dalem Segening. Kemudian Ki Arya Kenceng mengambil kapur. seraya digoreskan menyilang atau dibubuhi tampak dara anak kecil itu. Keesokan hannya diingat kembali , karena dia itu memang betul putra Dalem yang bernama I Dewa Manggis Kuning. Kemudian Ki Arya Kenceng datang menghadap berhatur sembah kepada Ida Dalem seraya mengatakan untuk memohon putra beliau seorang, akan dijadikan penguasa di negara Badung. Ida Dalem merasa senang dan memberikan putranya
yang dimohon itu, yang bemama I Dewa Manggis Kuning, dan kemudian diiringkan pulang ke Puri Badung. Sesudah diberi tempat di Badung, sangat disayang oleh Ki Arya Kenceng, disebabkan karena kebagusan rupanya, ganteng seperti Arjuna, dan bagaikan Sanghyang Asmara yang menjelma di Puri Pamecutan.
Ki Arya Kenceng Memohon Putri Anglurah Pinatih Rsi
Diceritakan Ki Arya Kenceng memiliki seorang putera laki ? laki bernama I Gusti Ngurah Pemecutan, dipertunangkan dengan putri Ida Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi yang menjadi penguasa di istana Puri Kerthalangu. Putrinya bernama I Gusti Ayu Nilawati. Paras rupanya sangat cantik tanpa tanding bagaikan Dewi Ratih yang menjelma ke dunia. Diceritakan kemudian sang putri sudah masuk ke Puri Pemecutan, namun belum diupacarai menurut tata cara upacara perkawinan dengan I Gusti Ngurah Pemecutan. Pada saat malam tiba, dilihatlah oleh sang putri I Dewa Manggis, yang menyebabkan jatuh hatinya I Gusti Ayu Nilawati serta pada akhirnya dapat beradu asmara. Karena demikian halnya, bukan alang kepalang marahnya Ki Arya Kenceng, berkehendak akan merebut I Dewa Manggis. Hal itu kemudian diketahui oleh Kyai Anglurah Pinatih Resi. Bila saja I Dewa Manggis terkena bencana, tidak mustahil putrinya juga akan meninggal. Saat itu kemudian Kyai Anglurah Pinatih Resi memakai busana wanita, menyerupai selir, lalu masuk ke rumah yang didiami oleh I Dewa Manggis, kemudian I Dewa Manggis digulung tikar, kemudian dibawa keluar puri. Karena berupa seorang wanita, maka tak seorangpun hirau, sehingga I Dewa Manggis bisa dibawa ke Purinya Ida Kyai Anglurah Pinatih Rsi, bersama putri beliau.
Baru sehari disembunyikan di Puri Kerthalangu, diketahui oleh Kyai Kenceng, dikatakan bahwa Ki Arya Agung Pinatih Rsi menyembunyikan putrinya bersama I Dewa Manggis, kemudian mendatangi Puri Kerthalangu. Segera tahu Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi, itu sebabnya segera I Dewa Manggis Kuning dan putrinya dilarikan ke purinya I Gusti Putu Pahang. Sampai disana masih juga diketahui oleh Ki Arya Kenceng, maka dikepung dengan bala pasukan yang jumlah cukup banyak. Kembali I Dewa Manggis Kuning digulung dengan tikar, ditaruh di depan rumah, ditindih dengan selimut. Kemudian datang pasukan pemecutan mencari kesana kemari sampai kedalam rumah, namu tidak juga ditemukan I Dewa Manggis. Karena itu kembalilah pasukan itu ke Puri Pemecutan.
I Dewa Manggis Mengambil Istri : I Gusti Ayu Nilawati dan I Gusti Ayu Pahang
Setelah malam, I Gusti Pahang bertimbang rasa dengan I Dewa Manggis Kuning : ? Aum I Dewa Manggis anakku I Dewa, merasa sulit bapak menyembunyikan I Dewa disini. Sekarang lebih baik I Dewa berpindah tempat dari sini, sebab bapak malu dengan Ki Arya Kenceng. Dan lagi bapak sangat mengasihi ananda I Dewa, agar I Dewa bisa meneruskan hidup ? panjang umur. Ini ada anak bapak seorang, agar mendampingi ananda dipakai isteri. Putri bapak ini bernama I Gusti Ayu Pahang?. Demikian hatur I Gusti Putu Pahang disaksikan oleh ayahandanya Ki Arya Bija Pinatih. Kemudian dijawab oleh I Dewa Manggis dengan rasa penuh prihatin : ? Aum ayahanda Ki Arya Pinatih, sangat besar rasa kasihan Ayahanda kepada saya, tidak akan bisa saya membayar pihal kasih sayang Ayahanda kepada diri saya ?.
Wilayah Kerthalangu Tentram dan Kertaraharja
Diceritakan kembali Kyai Anglurah Pinatih Rsi sudah berusia lanjut, kemudian berpulang ke Sorgaloka. Demikian juga Ida Kyai Anglurah Made Bija, juga sudah meninggalkan dunia fana? ini. Kyai Anglurah Pinatih Rsi kemudian digantikan oleh putranya memegang kekuasaan, yang bernama sama dengan ayahandanya yakni I Gusti Anglurah Agung Gde Pinatih Rsi disertai oleh adiknya I Gusti Anglurah Made Sakti Pinatih, didampingi oleh paman beliau dari para putra Kyai Anglurah Made Bija seperti I Gusti Gde Tembuku, I Gusti Putu Pahang, I Gusti Nyoman Jumpahi, I Gusti Nyoman bija Pinatih, I Gusti Nyoman Bona, I Gusti Benculuk serta I Gusti Ktut Blongkoran.
Banyak memang keturunan Kia Arya Pinatih ketika beristana di Kerthalangu, tidak bisa dihitung jumlahnya. Semasa pemerintahan beliau berdua tidak ada orang lain yang berani bertingkah, semuanya besembah sujud, serta tentram wilayah itu semasa kekuasaan I Gusti Ngurah Gde Pinatih beserta I Gusti Ngurag Made. Tidak ada manusia yang beranai, subur makmur kawasan itu jadinya serta sejuk keadaannya karena sang penguasa sangat welas asih suka memberi serta tiada pernah lupa menghaturkan sembah baktinya kepada Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya wilayah beliau menjadi tentram dan kertaraharja. Lama beliau berkuasa di kawasan Pinatih Badung, menjadi tertib kerajaan Kerthalangu yang bernama Kawasan Pinatih, sebab Pinatih lah yang memegang kekuasaan disana.
Patut diketahui Ida I Gusti Anglurah Gde Pinatih mempunyai putra banyak yakni I Gusti Ngurah Gde Pinatih ? sama namanya dengan sang ayah,
I Gusti Ngurah Tembawu, I Gusti Ngurah Kapandeyan, I Gusti Ayu Tembawu, I Gusti Bedulu, I Gusti Ngenjung, I Gusti Batan, I Gusti Abyannangka, I Gusti Miranggi, I Gusti Celuk, I Gusti Arak Api, I Gusti Ngurah Anom Bang, I Gusti Ayu Pinatih, I Gusti Balangsigha.
Adik beliau I Gusti Ngurah Anglurah Made Sakti mempunyai putra: I Gusti Putu Pinatih, I Gusti Ngurah Made Pinatih, I Gusti Ngurah Anom, I Gusti Ngurah Mantra, I Gusti Ngurah Puja.
Saudara sepupunya I Gusti Putu Pahang mempunyai putra I Gusti Putu Pahang ? sama dengan nama sang ayah, I Gusti Made Pahang, I Gusti Ayu Pahang ? yang diambil oleh I Dewa Manggis Kuning, serta I Gusti Nyoman Pahang.
Demikian keadaanya dulu.

Selasa, 18 Oktober 2011

KETURUNAN PRABU AIRLANGGA


‘Ksamakna hulun de Hyang Mami, mwang Dewa Bhatara makadi Hyang Kawitan, moghi hulun tan kneng upadrawa tulah pamidi, nimitaning hulun, ngutaraken katatwan ira, sang wusamungguh ring tmagawasa, lepihaning kawitan, kang wenang kesungsung de treh Airlangga’
(Prasasti Abasan, lembar 1b)

Artinya :
’Maafkanlah hamba oleh junjungan hamba, dan para dewa-dewa pelindung, seperti halnya para leluhur, semoga hamba tidak mendapat kutukan, lancang. Sebab hamba akan menuturkan prihalnya beliau yang telah bersthana pada lempengan tembaga, lampiran leluhur, yang seharusnya di junjung oleh keturunan Airlangga.’

Keturunan Airlangga
Airlangga adalah keturunan Dharmodayana, Jadi berleluhur Warmadewa. Namun di jawa menurut prasasti Kalkuta, beliau menyatakan diri sebagai pewaris Dharmawangsa Teguh. Dengan melekatkan nama Uttungga Wikrama, yang dapat di lihat pada gelar lengkapnya “Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Teguh Wikramottunggadewa”. Penggunaan gelar dimadsud dapat di pahami hanyalah mengabsahkan dirinya yang berhak atas Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur itu. Namun beliau tetap keturunan Warmadewa dari garis Purusa (Bapak).
            Prabhu Airlangga di Jawa berputra empat orang. Tiga orang lahir dari ibu Swari dan satu orang lahir dari seorang gadis gunung.
            Yang tertua adalah seorang putri yang bernama Sri Dewi Kili Endang Suci.
Ia juga di beri nama atau gelar Rake Kapucangan. Adek laki-lakinya masing-masing bernama Sri Jayabhaya dan Sri Jayasabha. Seorang putra yang lahir dari gadis gunung adalah Sirarya Buru. Konon ibu Arya di dapatkan di gunung, di sebuah desa ketika Prabhu Airlangga berburu.
            Sri Dewi Kili Endang tidak ada kemauannya menjadi raja. Airlangga menjadi susah, karena kedua putra nya berhak menggantikannya. Untuk itu ia mengutus Empu Bradah pergi ke bali, mengusahakan agar Jayasabha dapat di terima untuk menjadi Raja dibali. Namun Empu Kuturan menolak kehendak Prabhu Airlangga dengan alasan di Bali telah ada raja pengganti yaitu anak wungsu, yakni Adinda dari Airlangga sendiri.
            Untuk memecahkan permasalahan pergantian diri Airlangga sebagai raja, maka terpaksa Kerajaan Kahuripan di bagi dua, menjadi Kediri untuk Jayabhaya dan Janggala untuk Jayasabha. Dan Airlangga sendiri pergi bertapa dengan gelar Rsi Jatayu. Pembagian kerajaan Kahuripan ini terjadi tahun 1042 masehi, yang di laksanakan oleh Empu Bradah.
            Sri jayabhaya di Kediri berputra 3 orang, yang sulung bergelar Sri Aji Dangdang Gendis, yang kedua bergelar Siva Wandhira. Sedangkan yang wungsu bergelar Sri Jaya Kusuma.
            Sri Aji Dandang Gendis berputra Sri Aji Jaya Kathong, ia gugur di medan perang melawan persekutuan tentara Tartar dengan Sanggramawijaya. Sri Jayakatong berputra Sri Jayakatha. Adapun sri Siva Wandhira berputra Sri Jaya Waringin dan Sri Jaya Kusuma Berputra Sri Wira Kusuma. Sri Jaya Waringin Dan Sri Jayaktha tunduk kepada Ken Arok raja Singasari. Di sini mereka berdua di jadikan anak oleh Arya Gajah keturunan Kbo Ijo.
            Di Singasari Sri Jaya Katha berputra tiga orang, masing-masing bernama : Sirarya Wyahan Dalem Manyenang,di berikan gelar demikian, karena ia hidup sehat ketika ibunya di larikan ke Tumapel. Putra yang kedua berputra Arya Katanggaran dan yang paling kecil bernama Arya Mudhata. Sirarya Wayahan Manyeneng Berikutnya berputra Sirarya Gajah Para dan Siraya Getas. Sirarya katanggaran beristri dari keluarga Kbo Ijo, lalu berputra Sira Kbo Anabrang atau Sirarya Sabrang. Sira Kbo Anabrang mempunyai anak satu-satunya yang bernama Kbo Taruna,Terkenal dengan nama lainnya Siarya Singha Sardhula.
            Sri Jaya Waringin yang di jadikan anak oleh keluarga Kbo Ijo, mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sirarya Kuta Mandhira. Berikutnya Sirarya Kuta Mandhira mempunyai anak laki-laki yang di beri nama Kuta Waringin. Dari sinilag awalnya ada keturunan atau Warga Kuta Waringin di Bali. Karena ia ke Bali ketika ekspedisi Majapahit.
            Sri Jaya Sabha di Janggala menurunkan seorang putra yang bernama Sira Aryeng Kediri dan berputra Sira Aryeng Kepakisan, yang dating ke Bali atas printah Maha Patih Gajah Mada, untuk Menyertai Sri Kresna Kepakisan Sebagai Adipati di Bali.
            Di Bali Sirarya kepakisan berputra dua orang yaitu Pangeran Nyuh Aya dan Pangeran Asak. Dalam generasi berikutnya Pangeran Nyuh Aya menurunkan 8 putra yaitu :
            1. Wini Ayu Widhi (dikawini oleh Klapodyana)
            2. Kiyayi Petandakan
            3. Kiyayi Satra
            4. Kiyayi Akah
            5. Kiyayi Cacaran
            6. Kiyayi Pelangan
            7. Kiyayi Kloping
            8. Kiyayi Angga.
Seddangkan Pangeran Asak berputra satu orang yaitu Kiyayi Nginte.